BISNIS BITCOIN

Baboo
Presentasi di Kantro Baboo
Mungkin saya orang konservatif. Tetapi pengalaman mengajarkan saya bahwa berbisnis bukan hanya memperhitungkan faktor untung saja, tetapi lebih besar kepada faktor resiko atau risk.
Banyak dari teman yang ketika menerima sebuah proposal bisnis, langsung matanya hijau ketika di omongkan keuntungannya sekian sekian.
Permainan pikiran ini yang membuat banyak orang terjebak dalam investasi dengan pondasi lemah. Ketika pondasi -yang berdiri dengan satu pilar- itu runtuh, maka runtuhlah semua bangunannya.
Ketika tahun 2007, orang ramai memburu tanaman Anthurium atau kita kenal dengan nama Gelombang Cinta, banyak teman yang meminta saya berusaha disana. Harga tanaman itu yang awalnya 30 – 50 ribu per tanaman, melonjak tinggi menjadi ratusan juta rupiah.
Siapa yang bermain disini?
Tentu peran media sangat besar. Media berkolaborasi dengan pedagang tanaman besar untuk menaikkan harga Gelombang Cinta. Kisah-kisah sukses orang yang kaya raya karena memelihara tanaman ini, menghiasi koran dan majalah.
Dan seorang teman yang bergerak di bidang keuangan, bercerita tentang situasi yang sama yang terjadi pada tahun 1637 di Belanda.
Berita tentang investasi di bunga tulip yang dalam waktu singkat membuat orang kaya, membuat orang melakukan pembelian tulip besar-besaran. Kejadian ini terkenal dengan nama Tulipomania atau Tulip mania.
Harga yang melambung tinggi, yang sudah tidak sesuai dengan harga sebenarnya itu, menciptakan Bubble. Bubble adalah istilah dimana sebuah balon ditiup sebesar-besarnya sampai diluar kapasitasnya, kemudian meledak duarrr dan yang tinggal hanyalah anginnya.
Dan meletuslah masalah tulip itu yang membuat harga tulip yang dibeli sangat tinggi, tiba-tiba menjadi tidak berharga. Bayangkan, berapa ribu orang yang menangis karena kehilangan seluruh tabungan masa depannya karena membeli mimpi yang instan?
Kejadian di abad ke 16 itu selalu menjadi metafora ketika terjadi gelembung ekonomi (bubble) di seluruh dunia. Dan benar saja, tidak berapa lama harga Gelombang Cinta jatuh ke dasar.
Teman-teman yang dulu mentertawakan saya ketika mengingatkan mereka, menangis meraung-raung karena Gelombang Cinta yang mereka beli seharga puluhan juta rupiah per tanaman, sudah tidak ada harganya.
Ada yang kemudian bercerai karena ribut terus dengan istrinya, ada yang sibuk menghadapi debt collector dan menjual semua kepunyaannya karena berinvestasi dengan meminjam uang ke bank, dan banyak lagi.
Saya tidak bisa bilang lagi, “Apa saya bilang” karena terlalu sedih melihat situasi mereka.
Lucunya, beberapa dari mereka tidak kapok. Ketika ada boomng ikan Louhan, mereka investasi. Gagal lagi. Bisnis akik pun begitu juga. Sudah kebal saya menghadapi berita pedih itu.
Panic buying, adalah istilah kepanikan membeli atau investasi pada sesuatu berdasarkan rumours atau isu-isu yang dibangun media.
Saya selalu mencontohkan konsep bisnis kepada seorang teman dengan analogi sepakbola. “Tidak penting seberapa pintar kamu bisa menggolkan, tapi ketika gawangmu lebih banyak kebobolan, maka kamu tidak akan pernah menang”.
Analogi itu berarti, kamu harus lebih dulu memikirkan resiko dalam berbisnis daripada keuntungan. Karena resiko itu nyata, sedangkan keuntungan itu maya.
Dan tiba-tiba, ketika sedang asik minum kopi di sore hari, pintu rumah saya diketuk.
Teman saya yang dulu berbisnis Gelombang cinta, ikan Louhan dan batu akik itu, dengan begitu bersemangatnya berbicara tentang bisnis mata uang digital atau lebih dikenal dengan nama Bitcoin.
Saya menyeruput kopi sambil mendengarkan dia.
Buat saya, kekayaan dalam bisnis itu adalah prosesnya, bukan hasilnya. Jadi tanpa proses, sulit untuk berbicara nilai kekayaan yang sebenarnya.
Ah, lebih baik kubakar rokok ini saja dan menikmati semua proses setahap demi setahap. Seperti menikmati secangkir kopi dengan setiap seruputannya, dan tidak langsung menenggaknya.

Seruput..

Source: insu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *