TULIP MANIA, SEJARAH KESERAKAHAN MANUSIA

Investasi
Bunga Tulip
“Bang, ceritakan dong tentang peristiwa Tulip mania”.
Tulisan saya tentang “Bisnis Bitcoin” yang menyinggung cerita lama rupanya menarik perhatian seseorang. Saya senang ketika ada yang bertanya, maka saya coba menceritakan secara sederhana..
Dulu -sekitar tahun 1611- bunga tulip yang cantik di Belanda adalah simbol status sosial dan kebanggaan orang kaya. Bunga tulip hanya bisa tumbuh di Belanda sehingga persediannya terbatas.
Meski terbatas, permintaannya sangat banyak sehingga harga tulip naik. Akhirnya permintaan untuk investasi di tulip pun meningkat.
Orang begitu bangga ketika investasi di tulip. “Elu harus investasi di tulip, karena nilainya selalu naik. Bayangkan gua dulu beli harga sekian, sekarang sudah naik harga sekian”.
Siapa yang tidak percaya pada investasi tulip waktu itu?
Bank-bank besar berbicara tentang bagusnya harga tulip. Orang-orang kaya dan berpengaruh berbicara tentang investasi di tulip. Ditambah media yang selalu mengabarkan tentang orang kaya baru sesudah investasi tulip.
Akhirnya semakin lama beritanya semakin besar dan orang mulai berburu tulip.
Jangan salah, orang tidak berinvestasi dengan menanam tulip sendiri. Mereka berburu “kertas investasi” berisi perjanjian antara investor dan petani tulip.
Investor pertama kemudian menjual “kertas” itu kepada investor kedua dengan harga lebih tinggi. Investor kedua menjual lagi ke investor ketiga dengan harga jauh lebih tinggi.
Kenapa harga “kertas” itu bisa lebih tinggi?
Karena isu. Naiknya investasi berdasarkan isu yang terus dimainkan oleh pihak yang memegang kertas itu. Dan itu bukan permainan ecek-ecek, karena yang membeli “kertas” dalam jumlah besar dan banyak adalah pemain modal besar.
Akhirnya kertas sampailah ke tangan si kelas kecil menengah yang baru belajar bisnis dengan harga sudah 1000 kali lipat.
Si kelas kecil menengah, karena ingin cepat kaya, menjual barang- barangnya sampai berhutang ke Bank. Sialnya, dia berhutang ke Bank yang memegang “kertas” itu. Jaminannya rumah dan apapun yang dia punya.
Akhirnya, musim panen pun tibalah.
Ternyata, karena membludaknya permintaan, orang akhirnya menanam tulip dimana-mana. Tulip sudah bukan lagi menjadi barang terbatas, tetapi barang umum.
Apa yang terjadi kemudian? Hukum pasar pun berlakulah. Karena begitu banyaknya persediaan tulip, harganya anjlok ke bumi.
Si kelas kecil menengah sebagai investor ke seribu sekian, memegang kertas investasi bernilai ratusan juta rupiah, tapi nilai tulip di pasar ternyata hanya berharga puluhan rupiah.
“Kertas investasi” itu menjadi hanya bernilai seharga kertas biasa.
Dan situasi ini ternyata bukan hanya terjadi di Belanda, tapi sudah menyebar ke seluruh Eropa.
Inilah peristiwa Bubble atau gelombang ekonomi pertama yang tercatat dalam sejarah. Orang jatuh miskin, Bank kolaps, ekonomi runtuh.
Dan siapa pemenangnya?
Ya investor pertama, kedua dan ketiga yang meraup untung di awal. Makanya ada yang menyebut bisnis seperti ini sebagai skema Ponzi. Level diatas selalu menang.
Mereka paham keserakahan manusia sehingga memainkan psikologi “panic buying” untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dari para kelas kecil menengah yang bermimpi ingin sekaya mereka.
Peristiwa Bubble Tulip Mania ini selalu menjadi metafora dalam setiap bubble yang mempunyai pola yang sama. Seperti bubble properti yang melanda Amerika, bubble stocks yang melanda Jepang dan banyak lagi.
Manusia tidak pernah belajar sejarah, karena serakah dan ingin cepat kaya. Mereka tidak mau memulai proses setahap demi setahap dalam usaha dan terjebak dalam mimpi indah.
Dalam skala nasional, kita melihat pola yang serupa dalam kasus Gelombang Cinta, ikan Louhan, batu akik dan banyak lagi. Beda kasus, dengan pola yang sama.
Nah, apakah model bisnis Cryptocurrency atau lebih dikenal dengan Bitcoin mempunyai pola yang sama?

Hanya waktu dan seruputan kopi yang bisa menjawabnya.

Source: insu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *